Filsafat Ketuhanan sebagai Upaya Pencegahan Radikalisasi dan Terorisme di Tengah Perbedaan Agama di Indonesia
Agama merupakan salah satu sarana spiritual tentang keberadaan Tuhan, bukan organisasi pemufakatan jahat.
Indonesia adalah negara memiliki banyak keberagaman termasuk agama. Namun perbedaan tersebut sering kali menjadi pemicu konflik, termasuk radikalisasi dan terorisme. Filsafat Ketuhanan merupakan salah satu solusi dalam mencegah radikalisasi maupun tindakan terorisme.
Konsep Filsafat Ketuhanan
Filsafat ketuhanan berfungsi memahami hakikat Tuhan dan korelasiNya dengan manusia serta alam semesta. Pemahaman yang mendalam tentang Tuhan diharapkan agar mampu membuat individu ataupun kelompok menjadi lebih baik dan juga menghindari interpretasi ekstrim di tengah keberagaman. Terutama yang sering kali digunakan oleh kelompok radikal untuk membenarkan tindakan kekerasan.
1. Tuhan sebagai Sumber Moralitas
Tuhan dapat menjadi sumber moralitas kebaikan manusia. Manusia harus memahami bahwa ajaran Tuhan adalah mengenai kebijaksanaan, kebaikan, perdamaian, kebenaran, integritas, keadilan, kasih sayang, dan segala hal baik dalam menjalani hidup yang sekali di bumi. Hal itu harus membuat manusia tidak mudah terpengaruh pada hal negatif dan dapat menolak ideologi radikal yang mengarah pada kekerasan, ataupun segala tindakan terorisme.
2. Kesatuan dalam Keberagaman
Filsafat ketuhanan mengajarkan bahwa Tuhan adalah pencipta seluruh umat manusia meskipun dalam kehidupan ditemui perbedaan agama, suku, budaya, serta beragam perbedaan lainnya. Kemudian agama merupakan salah satu sarana spiritual tentang keberadaan Tuhan, bukan organisasi pemufakatan jahat. Pemahaman ini harus diilhami sehingga masyarakat Indonesia dapat lebih menghargai perbedaan, keberagaman yang ada di Indonesia, juga mencegah konflik yang dapat berujung pada tindakan radikalisasi dan terorisme
Pandangan Para Filsuf tentang Tuhan dan Pencegahan Terorisme
Para filsuf memiliki konsep tentang Tuhan dan bagaimana pemahaman ini mempengaruhi kehidupan manusia. Berikut adalah beberapa pandangan dari filsuf terkenal yang berkaitan dengan pencegahan terorisme:
- Immanuel Kant: Kant melihat Tuhan sebagai postulat moral, yaitu konsep yang diperlukan untuk menjelaskan dasar moralitas manusia. Ia berpendapat bahwa hukum moral yang bersumber dari Tuhan dapat menjadi dasar bagi masyarakat yang damai dan harmonis.
- René Descartes: Descartes berargumen bahwa Tuhan adalah entitas yang sempurna dan menjadi dasar bagi keberadaan manusia. Pemahaman ini dapat membantu individu menghindari ekstremisme dengan menekankan nilai-nilai ketuhanan yang rasional.
- John Locke: Locke menekankan pentingnya toleransi beragama sebagai bagian dari filsafat ketuhanan. Ia berpendapat bahwa kebebasan beragama adalah hak fundamental yang harus dijaga untuk mencegah konflik dan radikalisasi.
- Al-Farabi: Filsuf Muslim ini mengajarkan bahwa pemimpin yang ideal harus memiliki pemahaman yang benar tentang Tuhan dan filsafat ketuhanan.
- 'Reza Wattimena: Dalam kajiannya tentang filsafat anti-teror, Wattimena menekankan bahwa terorisme harus dilawan dengan pemikiran yang terbuka dan inklusif. (1.) Pendapatnya memberi makna bahwa filsafat ketuhanan yang menekankan keterhubungan dan keterbukaan dapat menjadi dasar bagi strategi pencegahan terorisme.
Radikalisasi → Terorisme di Indonesia
Radikalisasi adalah proses di mana individu atau kelompok mengadopsi pandangan ekstrem yang dapat mengarah pada tindakan terorisme. Sedangkan dalam ranah keagamaan, radikalisme agama ditandai dengan gerakan yang berusaha merombak total tatanan sosial dan juga politik yang sudah ada menjadi hanya sesuai aliran agamanya, dengan cara apapun termasuk menggunakan kekerasan. Di Indonesia, radikalisasi sering kali terjadi melalui propaganda yang menyalahgunakan ajaran agama. Kelompok radikal menggunakan interpretasi sempit tentang Tuhan untuk membenarkan tindakan kekerasan.
1. Faktor Penyebab Radikalisasi dan Terorisme Agama
- Kurangnya pemahaman agama yang moderat: Banyak individu yang terpapar ajaran ekstrem karena kurangnya pendidikan agama yang inklusif.
- Ketidakadilan sosial dan ekonomi: Ketimpangan ekonomi sering kali menjadi pemicu utama bagi individu untuk bergabung dengan kelompok radikal.
- Pengaruh media dan propaganda: Kelompok radikal menggunakan media sosial untuk menyebarkan ideologi ekstrem. (e-journal.metrouniv.ac.id)
2. Peran Filsafat Ketuhanan dalam Pencegahan Radikalisasi
Filsafat ketuhanan dapat berperan dalam mencegah radikalisasi dengan menanamkan pemahaman yang lebih luas tentang Tuhan dan ajaran-Nya. Beberapa langkah lain yang dapat dilakukan meliputi:
- Pendidikan agama yang moderat: Mengajarkan nilai-nilai universal yang menekankan perdamaian dan toleransi
- Dialog antaragama: Mendorong komunikasi antara pemeluk agama yang berbeda untuk mengurangi kesalahpahaman dan konflik.
- Kebijakan pemerintah yang inklusif: Pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan tidak mendiskriminasi kelompok tertentu. (www.academia.edu)
Pemahaman filsafat tentang Tuhan berperan penting dalam mencegah radikalisme dan terorisme di tengah keberagaman di Indonesia.
Agama harus dipahami sebagai salah satu sarana spiritual tentang keberadaan Tuhan, bukan organisasi pemufakatan jahat.
kutipan (1). (PDF) Terorisme dan Filsafat Anti Teror: Sebuah Refleksi
Komentar